Ketahanan pangan merupakan sebuah isu di dunia modern, sejak lama para ahli-ahli dan peneliti di dunia memprediksikan bahwa akan datang suatu masa dimana ketersediaan bahan pangan menjadi langka. Kegelisahan ini sangat beralasan, karena kelangkaan pangan pernah melanda seantero negeri di dunia. Perang dunia II contohnya. Perang yang berkecamuk ini telah memakan banyak korban jiwa yang bukan hanya mati karena peperangan, melainkan banyak juga yang mati kelaparan dan gizi buruk. Melihat hal ini para ahli tidak tinggal diam, segala macam daya dan upaya ditempuh guna mencukupi kebutuhan pangan, mulai dari pengembangan secara intensif dan ekstensif bidang pertanian, seleksi dan pemuliaan terhadap bahan pangan hingga rekayasa di bidang genetika.

Rekayasa genetika ini lah yang melahirkan istilah baru dalam bidang pangan, yaitu pangan transgenik. Lahirnya istilah transgenik merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan produktivitas serta mutu gizi pangan, serta untuk menciptakan hewan dan tanaman yang bersifat unggul, dengan upaya ini diharapkan kebutuhan manusia akan protein hewani serta nutrien penting dalam bahan pangan terus meningkat ditengah bertambahnya manusia serta meningkatnya kesadaran manusia akan pentingnya asupan gizi yang baik dalam makananya, karena semakin baik mutu hidup manusia, manusia cenderung ingin mendapatkan yang lebih baik, termasuk juga dalam pemenuhan zat gizi. Pangan transgenik dinilai merupakan penemuan brilian yang dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kerawanan pangan dewasa ini yang dikarenakan berkurangnya lahan pertanian karena bersaing dengan pertumbuhan jumlah manusia.

Menurut Low (2000). Istilah transgenik lebih disebabkan oleh telah berhasilnya para ilmuwan negara maju untuk memindahkan DNA penyandi sifat tertentu dari suatu spesies makhluk hidup ke spesies lainnya yang secara taksonomi sangat berbeda. Sebenarnya teknologi perkawinan silang, juga dapat dimasukkan dalam kategori teknologi transgenik namun bersifat konvensional. Pemindahan genetik ini bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang “sempurna” yaitu tanaman yang mampu ditanam dalam kondisi ekstrim, tahan penyakit dan gangguan hama, memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap, hingga memiliki umur simpan yang jauh lebih panjang pada teknik penyimpanan minimal.

Melihat keunggulan pangan transgenik tentu saja kita sangat tergiur dengan berbagai macam keunggulan serta keuntungan yang didapatkan dari pangan transgenik. Pangan transgenik bukan tanpa resiko, pemanfaatan pangan transgenik pada varietas yang dikonsumsi manusia menimbulkan pro kontra adanya efek negatif dalam pemanfaatanya. Contoh kasus yang pernah terjadi di dunia adalah ditemukannya efek yang signifikan terhadap sistem imun tikus yang mengkonsumsi kentang dengan penambahan gen lektin yang berasal dari tumbuhan yang tahan hidup pada kondisi bersalju. Beberapa contoh kasus lainya antara lain (dikutip dari biotekindonesia.com) konsekuensi tidak langsung, misalnya, efek baru yang muncul akibat transfer gen, perubahan level ekspresi gen pada tanaman sasaran, serta pengaruhnya terhadap metabolisme tanaman. Beberapa efek lain yang seringkali tidak dsapat diantisipasi perlu juga dikaji, misalnya, gene silencing, interupsi sekuens penyandi, atau berubahnya sistem regulasi gen-gen.

Isu-isu pangan transgenik yang berdampak buruk dalam kehidupan terus berhembus ditengah-tengah masyarakat, karena itulah banyak timbul pro dan kontra dalam pemanfaatan pangan transgenik. Menyikapi pro dan kontra tersebut, diperlukan suatu sifat bijak dan arif guna melihat dengan jernih apa sebenarnya pokok intisari dari permasalahan pro dan kontra pangan transgenik. Kajian historis komprehensif sangat diperlukan disamping sikap bijak dalam menerima sebuah penemuan baru. Sikap arif dan bijak ini hendaknya dapat menjadi pondasi dalam setiap penelitian dan kajian yang dilakukan untuk menilai baik buruknya penggunaan pangan transgenik, sehingga para ahli dan masyarakat tidak melihat pro-kontra pangan transgenik secara parsial, melainkan secara penuh dan menyeluruh, sehingga tidak terjadi suatu bias masalah dalam masyarakat. Penelitian dan kajian hendaknya meliputi seluruh aspek, baik dari aspek ketahanan pangan, keamanan pangan, aspek ekonomi serta jangan dilupakan aspek sosio-kultural masyarakat khususnya para petani, peternak dan nelayan yang sering dilupakan, sehingga dengan demikian semakin jelaslah solusi atas isu-isu tentang pangan transgenik.

Pustaka :

Low, F.C. 2000. Genetically Modified Organisms. J. Singapore Microbiologist, ILSI, Singapore. Vol. Ags – Oct 2000 hal 2-5.

Anonim. 2009. Pangan Transgenik Bahaya atau Tidak?. www.biotekindonesia.com [17 Mei 2010].